Tunggu Sebentar ya...

Ulasan Senirupa, Idealnya Bagaimana?

Oleh : Dr. Agus Priyatno, M.Sn*
Ulasan seni yang saya sampaikan melalui harian ini, tentang pameran ekspresi hitam putih pelukis Reins Asmara, mendapat tanggapan serius dari penulis kaliber internasional Raden Triyanto. Hal ini tentu saja merupakan kehormatan bagi saya mendapat respon seperti itu. Ulasan seni yang saya sampaikan sesungguhnya tidak bergaya "Tino Sidin" seperti disampaikan Triyanto, seolah mengatakan bahwa setiap karya seni dianggap bagus untuk memotivasi agar "anak-anak" tetap bersemangat melukis (Analisa 17/01/2010).

Ada etika dalam ulasan seni yang saya pegang, yaitu ketika membahas karya seni di depan publik, maka pilihannya adalah sampaikan sisi baiknya atau diam. Jika saya tidak menemukan sisi baik pada suatu karya seni, maka saya akan memilih diam dan tidak memberi ulasan atau pendapat. Gaya ulasan "menghancurkan" kreativitas orang tidak akan saya lakukan hanya untuk mendapatkan sensasi, keuntungan, dan popularitas. Ulasan akademik di ruang kelas tentu juga tidak harus sama persis dengan ulasan di media masa. Bahasan akademik di ruang kelas untuk memperluas cakrawala pemikiran mahasiswa, tentu saja menggunakan teori dan referensi buku sebanyak-banyaknya.

Ulasan tentang pelukis Reins Asmara yang saya sampaikan, relevansinya dalam konteks pelukis Medan atau lebih luas Sumatera Utara, jadi tidak relevan kalau dibandingkan dengan para pelukis Nasional atau Internasional. Pembandingan dengan para pelukis di tingkat nasional, seperti dilakukan Triyanto yang mempertanyakan posisi Reins Asmara, tidak menunjukkan kesadaran ini. Hanya ada beberapa pelukis saja dari daerah ini yang telah masuk dalam catatan sejarah seni rupa Indonesia, diantaranya Sudjojono putra Kisaran.

Generasi sesudahnya bisa dikatakan tidak ada lagi yang dikenal di pentas Nasional. Ukuran validasi pelukis nasional adalah karya mereka telah dibahas dan tercatat dalam sejarah seni rupa di negeri ini, atau setidaknya telah mendapat penghargaan di tingkat nasional seperti biennale seni rupa nasional dan sebagainya. Ukuran validasi di tingkat nasional bukan karena pernah pameran di Jakarta, karena banyak pelukis yang ikut pameran nasional hanya berstatus partisipan "penggembira", atau keterwakilan mereka hanya berdasarkan kuota, tidak melalui kompetisi dan seleksi yang sesungguhnya. Klaim sebagai pelukis nasional dengan membesarkan opini hanya berdasarkan satu katalog pameran adalah tindakan naif. Lebih naif lagi orang yang begitu saja mau mempercayai "omong besar" tanpa isi.

Persoalan validasi kualitas karya seni tidak berdasarkan cepat atau lambatnya suatu karya seni diciptakan. Sejumlah seniman kaliber nasional dan internasional menciptakan lukisan bahkan dalam waktu sangat singkat, karena kemampuan teknik sang pelukis sudah sangat sempurna. Affandi pelukis kelas internasional melukis hanya membutuhkan waktu beberapa jam saja, demikian pula dengan Antonio Blanco, Sudjojono, Basoeki Abdullah dan sebagainya. Widayat dan Nyoman Gunarso bahkan lebih hebat lagi, dalam satu hari dapat menciptakan beberapa karya karena kemahiran tekniknya. Mereka dapat melukis cepat karena telah belajar teknik melukis bertahun-tahun, bahkan mungkin berpuluh-puluh tahun. Mereka seperti juara lari olimpiade, yang mampu menempuh jarak 100 meter kurang dari 10 detik. Untuk bisa mencapai prestasi seperti itu latihan menguasai tekniknya bertahun-tahun.

Argumentasi lain yang disampaikan oleh Triyanto tidak menunjukkan akurasi data dan agak emosional, padahal dia sendiri menyatakan emosi adalah hal tabu dalam dunia akademik. Menurut pendapat saya emosi bukanlah hal tabu dimana saja, karena yang membedakan manusia dengan robot atau hewan adalah adanya emosi. Dunia akademis tanpa ada emosi didalamnya, hanya merupakan sekumpulan manusia berpikiran dingin dan berjiwa kering. Padahal dunia seni sangat jauh dari itu, rasa keindahan berkaitan erat dengan emosi seseorang. Orang bisa menangis atau tertawa ketika mengapresiasi karya seni, hal ini berkaitan dengan emosi.

Menurutnya lukisan Pablo Picaso tentang Guernica disebutkan tidak hitam putih, tetapi berwarna warni, dia menyebutkan warna-warna cerah, agak sedikit lucu karena contoh lukisan yang diajukan adalah bukan lukisan yang dibahas. Bahkan dia menduga saya mengambil data tentang lukisan Guernica dari diktat, seolah saya mahasiswa semester satu yang lagi belajar di ruang kuliahnya.

Berdasarkan barbagai sumber literatur buku dan juga sumber internet, lukisan Guernica karya Pablo Picasso adalah karya hitam putih dan sedikit dicampur biru (monokromatik) tentang peperangan, tepatnya perang sipil di Spanyol. Lukisan ini dibuat dengan cat minyak pada permukaan kanvas berukuran 349 cm × 776 cm pada tahun 1937. Lukisan ini diberi judul Guernica karena temanya tentang pengeboman Guernica, sebuah tempat di Spanyol yang membawa banyak korban jiwa masyarakat sipil tak berdosa. Sebuah ensiklopedia internasional bahkan menyatakan dengan jelas tentang aspek hitam putih ini, Guernica is blue, black and white, 3.5 metre (11 ft) tall and 7.8 metre (25.6 ft) wide, a mural-size canvas painted in oil. Fakta ini bisa diartikan bahwa Guernica adalah lukisan hitam putih, biru sebagai unsur monokromatik. Lukisan warna-warni Pablo Picasso yang diajukan sebagai ilustrasi tulisan oleh Triyanto bukanlah Guernica, tetapi lukisan lain yang berbeda. Lukisan yang dikemukakan di tulisannya sama sekali tidak relevan.

Persoalan seni lukis di Sumatera Utara sesungguhnya adalah bagaimana melahirkan seniman yang memiliki integritas dan berdedikasi sepenuhnya dalam seni lukis. Seniman yang tangguh, produktif, dan berkarakter kuat sehingga diakui di tingkat nasional berdasarkan karya-karyanya. Pelukis yang hanya pernah berpameran sekali di Jakarta tetapi tidak pernah produktif menciptakan karya, serta karyanya tidak ada dalam catatan sejarah senirupa Indonesia tidak bisa dikatakan sebagai pelukis nasional. Triyanto sebagai penulis seni sekaligus akademisi di daerah ini mengemban tugas moral ini. Sampai hari ini generasi baru pelukis akademis lulusan dari sekolah seni di Sumatera Utara bahkan belum ada yang betul-betul bisa diandalkan untuk tingkat nasional. Ukuran validasi nasional adalah karya mereka bisa berkompetisi di biennale seni lukis nasional dan peranannya dalam dunia seni lukis tercatat dalam sejarah seni rupa Indonesia.

Sedikit menyinggung masalah definisi seni rupa, dalam dunia ilmiah setiap adanya perbedaan kualifikasi akan diidentifikasi atau diberi tanda diferensiasi. Sebagai contoh dalam bahasa, ada istilah puisi, prosa, cerpen, novel, dan sebagainya. Setiap istilah tersebut maknanya berbeda. Lebih jelasnya dalam lukisan, lukisan realis berbeda dengan impresionis, ekspresionis, abstrak, dan sebagainya. Definisi-definisi setiap istilah itu menunjukkan adanya perbedaan atau diferensiasi kualifikasi meskipun sama-sama lukisan. Jadi tidak bisa disama ratakan. Apalagi lukisan (painting), jelas tidak bisa disamakan dengan gambar (drawing) atau ilustrasi (illustration) karena ada diferensiasinya. Jadi istilah gambar tidak bisa diterapkan untuk lukisan seperti dalam tulisan Triyanto yang menggunakan istiah ini tumpang tindih.

Ada ketidakkonsistenan dalam penyampaian tulisan Triyanto, judul "Gambar Apapun Masih Dapat Disebut Lukisan?" adalah pernyataan yang menunjukkan ketidakkonsistenan itu. Gambar (drawing) jelas tidak bisa disebut lukisan (painting). Hal ini sudah saya jelaskan berdasarkan definisinya pada tulisan sebelumnya. Berdasarkan uraian definisi, juga sejumlah karya berdasarkan perbedaan kualifikasi tidak bisa disebut lukisan. Ekspresi hitam putih dengan cat minyak di atas kanvas dapat disebut lukisan karena masuk dalam kualifikasi lukisan. Dengan logika sederhana seharusnya dia mampu memahami, banyak sekali lukisan cat air hitam putih tentang panorama karya Pelukis Cina.

Pemakaian istilah dalam tulisan akademis tidak bisa asal comot atau dikira-kira, semua harus mengacu pada pemakaian bahasa yang legal. Kalau akademisi menggunakan istilah-istilah secara arbitary betapa kasihannya para pembaca tulisan atau buku, karena isinya tidak bisa dipertanggungjawabkan. Tulisan berupa buku selalu mencantumkan glosarium, tujuannya agar istilah-istilah dalam buku itu tidak ditafsirkan berbeda dengan yang dimaksud dalam buku.

Pernyataan Triyanto lainnya yang sama sekali tidak relevan untuk dibahas tidak akan saya komentari. Beberapa pernyataannya menyesatkan, sangat inisuatif dan under estimate, bahkan nyaris tanpa etika penyampaian pendapat di muka umum. Sebagai dosen yang mengajar matakuliah kritik seni, mestinya dia juga paham, kritik seni itu ada etikanya, salah satunya tidak merendahkan martabat orang, tetapi semata-mata membahas karya seni secara holistik dan bermartabat.

Kesimpulan, ulasan seni tentang ekspresi hitam putih Reins Asmara lebih bersifat introduksi dan edukasi ke tengah-tengah masyarakat. Bagaimana mengapresiasi karya seni dengan cara yang sebaik-baiknya bagi masyarakat luas. Ulasan seni yang saya sampaikan bukanlah materi perkuliahan untuk kalangan mahasiswa yang harus dipenuhi teori berat, interpretasi dan perbandingan karya, posisi pelukis diantara pelukis nasional atau internasional dan sebagainya. Ulasan seni yang saya sampaikan bertujuan menghargai proses kreatif pelukis yang telah berupaya berkarya dan berpameran tunggal. Ulasan saya lebih tepat disebut apresiasi seni daripada kritik seni. Apresiasi seni, memahami dan menikmati karya seni, sedangkan kritik seni, berpendapat tentang baik-buruk atau salah-benar karya seni.

Meskipun demikian, ulasan seni lain yang juga berkaitan dengan ekspresi hitam putih tetap mengedepankan aturan akademis/ rasionalitas. Opini penulis didukung oleh referensi buku, sehingga dapat menjelaskan perbedaan-perbedaan istilah dalam seni lukis secara bertanggungjawab, tidak dikira-kira. Reins Asmara melukis hanya dengan unsur piktorial hitam putih tentu punya alasan sendiri. Secara semiotik dapat ditelaah, hitam dan putih biasanya berkaitan dengan perasaan duka seseorang. Barangkali ada alasan yang berkaitan dengan masalah, sehingga Reins Asmara melukis hanya dengan hitam putih.

Ulasan seni tentang pameran ekspresi hitam putih Reins Asmara, saya buat sebagai ungkapan simpati saya pada sang pelukis yang beberapa anggota keluarganya menjadi korban Tsunami di Aceh beberapa waktu lalu. Ulasan seni yang ideal adalah ulasan seni yang memahami manusia sebagai manusia, mampu membangkitkan spirit untuk terus berkarya. Ketika manusia gagal memahami manusia, seluruh ilmu pengetahuan tidak ada gunanya.

*Penulis; dosen Jurusan Pendidikan Seni Rupa FBS Unimed Medan

Sumber : Harian Analisa

0 comments:

Posting Komentar

Terima Kasih ya atas kunjungannya, jangan lupa tinggalkan komentar anda, karena komentar anda sangat berarti bagi blog Ismanadi :D

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
 
Copyright © Ismanadi
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com