Tunggu Sebentar ya...

GN-OTA (Gerakan “Nyontek” Orang-Orang Terdekat Allah).

Source ; Shutterstock.com
Bagi saya, sangat manusiawi sekali manakala kita dikasih masalah sama Allah dan seakan-akan terasa beraaaat banget dan memang berat sih, ya karena kita memang mahluk yang lemah. Mahluk yang nggak punya daya apa-apa tanpa pertolongan-Nya. Jadi ya wajar banget kalo kita ngeluh, komplain yang berlebihan, ngedumel yang nggak proporsional. Parahnya lagi suudzon yang nggak-nggak sama yang ngasih masalah. Kalo sudah gini, kita sudah ngaku mahluk yang lemah, nggak mampu apa-apa tapi ya jangan lupa selain lemah kita juga mahluk yang sempurna lho, diberi akal dan pikiran, masak iya kita biarin gitu aja, masak sih kita bakalan cuman meratap, memelas dan berpangku harapan dengan mematri satu ungkapan sakti ‎‎”yang terjadi-terjadilah”. Tanpa ada satu dua hal yang bisa kita perbuat. Ndak usah yang muluk-muluk lah apalagi berfikir pendek sampai harus mengakhiri hidup dengan gantung diri di pohon tomat atau menenggelamkan diri di dalam gayung ( wah-wah itu termasuk mengatasi masalah tanpa solusi kali ya, hehehe). Waduh gara-gara kalimat terakhir yang memaksa menyisipkan guyonan malah memutus suasana dramatis yang udah kebangun dari paragraf pertama tadi ya. Ya udah deh kita ganti paragraf aja ya.

Kalau ada masalah atau apalah yang sekiranya berat bagi kita, coba yuk kita lakukan GN-OTA, bukan menjadi orang tua asuh lo ya, tapi GN-OTA : Gerakan Nyontek Orang-Orang Terdekat Allah. Ya “NYONTEK”, dengan kita pakai kata nyontek, In Sha Allah tidak akan terasa berat, ya seperti waktu kita dibangku sekolah dulu lah, kan nggak mikir panjang yang penting nyontek dan dapet nilai bagus hehe. Nah khusus Nyontek yang satu ini, nyonteknya kepada orang-orang yang deket banget sama Allah. Bagaimana dan apa yang meraka lakukan manakala di uji Allah, manakala dapat musibah, manakala dapat ujian. Bagaimana gigihnya Nabi Adam memohon ampun kepada Allah setelah beliau diturunkan ke Bumi dan dipisahkan dengan Hawa atas kekhilafannya. Bagaimana sabarnya Nabi Ayub ketika diberikan penyakit bertahun-tahun dan tetap hebat beribadah kepada Allah. Coba tengok kisah Nabi Yusuf yang sabar atas kejailan saudara-saudaranya, dan tidak menjadi pendendam kepada saudaranya ketika beliau sudah menjadi Raja. Bahkan Nabi Muhammad SAW –pun yang merupakan kekasih Allah masih mendapatkan ujian yang luar biasa. Kalau orang-orang terdekat Allah saja masih diberikan ujian, cobaan berupa masalah-masalah yang luar biasa dan pada akhirnya semua happy ending koq. Apalagi dengan kita, seorang hamba yang tidak pernah luput dari dosa dan tak pernah mampu mensyukuri nikmat dengan seharusnya. Sudah amat sangat wajar dan teramat wajar sekali manakala kita didatangi masalah-masalah dan ujian-ujian yang terkadang bertubi-tubi. Coz itu merupakan proses metamorphosis kita untuk derajat yang lebih baik lagi. Dan yang pasti setelah ada kesulitan pasti ada kemudahan. Ismanadi

0 comments:

Posting Komentar

Terima Kasih ya atas kunjungannya, jangan lupa tinggalkan komentar anda, karena komentar anda sangat berarti bagi blog Ismanadi :D

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
 
Copyright © Ismanadi
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com