Langsung ke konten utama

Estetika dalam Seni dan Desain

Oleh : Dr. Agus Priyatno, M.Sn*

Estetika atau nilai-nilai keindahan ada dalam seni maupun desain, yang membedakan adalah estetika dalam seni untuk diapresiasi, sedangkan estetika dalam desain adalah bagian dari sebuah fungsi suatu produk.

Dalam teori desain dikenal prinsip form follow function, yaitu bentuk desain mengikuti fungsi. Selain memenuhi fungsi, ada tiga aspek desain yang harus dipenuhi jika suatu produk desain ingin dianggap berhasil, yaitu produk desain harus memiliki aspek keamanan (safety), kenyamanan (ergonomi) dan keindahan (estetika).


Aspek keamanan berarti suatu produk desain tidak mencelakai pemakainya. Aspek ergonomi berarti suatu produk desain proporsinya pas ketika dipakai. Aspek keindahan berarti suatu produk disain harus enak dilihat.


Sebuah kursi harus kuat supaya tidak rubuh ketika diduduki, maka ini berkaitan dengan keamanan. Kursi harus proporsional dengan ukuran manusia, sehingga terasa pas dipakai. Tidak terlalu tinggi atau terlalu rendah, tidak terlalu besar atau terlalu kecil, nyaman ketika diduduki. Ini berkaitan dengan masalah ergonomi. Secara visual, bentuk dan warna kursi harus menarik penglihatan. Ini berkaitan dengan estetika.


Kursi dirancang sebagai benda guna, yaitu kegunaan utamanya untuk diduduki. Berbeda dengan lukisan. Lukisan dipajang di dinding, untuk diapresiasi. Diapresiasi artinya, dipahami dan dinikmati. Lukisan dipahami berarti memerlukan intelektualitas untuk bisa mengapresiasi karya seni, sehingga bisa menikmatinya. Orang tidak bisa mengapresiasi dengan baik lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro kalau dia tidak memiliki pengetahun (intelektualitas) tentang sejarah tokoh tersebut, lebih jauh jika tidak tahu tentang sejarah perang di Indonesia. Orang tidak bisa memahami dan menikmati lukisan abstrak geometris Mondrian jika tidak paham (tidak memiliki intelektualitas) tentang sejarah panjang paradigma estetika di Barat.


Lukisan juga memiliki muatan-muatan ide atau gagasan yang bersifat personal tetapi dapat berdampak luas. Ide atau gagasan lukisan bisa menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat. Lukisan Perahu Medusa (Raft of The Medusa), diciptakan 1818-1819, menghebohkan masyarakat Prancis. Lukisan karya Theodore Gericault itu mengungkapkan peristiwa kecelakaan tragis di pantai Barat Afrika, sekaligus menunjukkan rendahnya moralitas kapten kapal. Dia menyelamatkan dirinya sendiri dan membiarkan para penumpang kapal dalam bencana mengerikan.


Antara Kursi dan Lukisan

Kursi, sandal jepit, kap lampu dan topi pramuka adalah beberapa contoh produk desain benda guna. Masing-masing produk memilik fungsi dalam kehidupan sehari-hari. Jika barang-barang tersebut terlalu sering dipakai dan rusak, harus diganti dengan yang baru. Kursi kayu rusak bisa dijadikan bahan bakar untuk memasak, sandal putus talinya bisa dimasukkan keranjang sampah. Topi pramuka yang sudah kusam bisa dijadikan lap untuk membersihkan meja yang ketumpahan kuah bakso.


Produk desain berfungsi sebatas dia masih memenuhi tiga unsur tadi, yaitu kemanan (safety), kenyamanan (ergonomi) dan keindahan (estetika). Jika salah satu unsur itu hilang, produk desain akan beralih fungsi dari benda guna menjadi benda tak berguna. Produk desain yang ketinggalan zaman juga bisa masuk keranjang sampah, atau didaur ulang menjadi produk lain.


Lukisan berbeda dengan kursi dan sebangsanya. Lukisan bersifat abadi seperti rangkaian kata mutiara, dia tidak bisa ketinggalan mode seperti desain. Lukisan Raden Saleh yang telah berumur ratusan tahun meskipun tampak kusam, dia akan tetap dihargai. Nilai sebuah lukisan terletak pada aspek ide atau gagasan, bukan pada fisiknya semata.


Keberpihakan Raden Saleh terhadap perjuangan Pangeran Diponegoro melawan kolonialisme, sebuah ide atau gagasan yang tidak ternilai harganya. Aspek ide yang disampaikan pelukis itulah nilai sebuah lukisan. Jika produk desain dilihat dari fungsi dan aspek keamanan, kenyamanan dan keindahan, maka seni lukis dilihat dari ide atau gagasan dan aspek kreativitas serta keindahannya. Produk desain hanya seumur kegunaannya atau seumur trend mode. Lukisan untuk selamanya, tidak mengenal trend mode.


Absurditas Karya Seni

Atas nama kebebasan dan absurditas seni, seolah semua bisa diklaim sebagai karya seni. Ketika pengertian seni mulai mengalami deviasi, kebingunan dikalangan masyarakat umum menyeruak. Banyak orang merasa tidak paham dengan karya seni. Benarkah setiap ekspresi manusia bisa dikategorikan karya seni? Meskipun jelek, tidak enak dilihat, tidak enak didengar dan tidak enak dirasakan?


Belakangan ini muncul fenomena penggunaan istilah seni secara arbitary atau sewenang-wenang. Seolah setiap orang bisa mengklaim diri sebagai pencipta karya seni. Seni menjadi absurd tanpa batas-batas yang jelas. Orang berusaha membuka batas-batas ini dengan mengatakan sebagai penganut estetika kolot jika berpegang teguh pada pengertian definitif. Orang mengkaburkan pengertian definitif agar leluasa memasukkan segala hal sebagai karya seni.

Kreativitas dalam penciptaan karya seni, memerlukan kecerdasan (intelektualitas). Ketika akan menciptakan karya seni, seorang kreator seni selanjutnya mempertimbangkan bahan, teknik dan idiom paling tepat untuk mengungkapkan gagasannya. Kreator seni juga mempetimbangkan aspek-aspek estetika pada perwujudan karyanya. Kreator seni sejati menciptakan karya seni untuk menjadikan manusia lebih manusiawi dan beradab, bukan sebaliknya. Tanpa dibekali oleh pengetahuan dasar tentang prinsip-prinsip estetika seni rupa, seorang kreator seni tanpa disadari dapat menciptakan ketidakharmonisan dan dehumanisasi.


Antara Desain dan Seni

Desain perwujudannya harus memenuhi fungsi tertentu. Selain fungsi, ada tiga prinsip dasar yang harus dipenuhi untuk bisa dikatakan sebagai desain yang bagus, yaitu keamanan, kenyamanan dan keindahan. Karya seni perwujudannya harus mengungkapkan ide (gagasan) tertentu.


Selain aspek ide, karya seni harus juga memiliki tiga prinsip dasar desain tersebut untuk bisa dikatakan sebagai karya seni yang bagus. Karya seni harus aman, tidak boleh membahayakan keselamatan orang dalam perwujudannya. Karya seni juga harus nyaman penampilannya dalam suatu ruangan, keberadaannya di suatu tempat tidak mengganggu. Karya seni juga harus indah, memuat unsur-unsur estetika.


Meskipun memiliki sejumlah kesamaan, desain dan seni memiliki perbedaan esensial. Desain diciptakan untuk memenuhi fungsi kegunaan, sedangkan seni untuk memenuhi ekspresi pribadi dan mengungkapkan ide (gagasan). Desain bersifat praktis sedangkan seni bersifat ideologis.

Penulis; dosen Seni Rupa FBS Unimed Medan. Sumber : Harian Analisa Image : Shanghai Art Fair

Komentar

  1. boleh kopas nggak bang, bagus nih buat artikel di web saya

    BalasHapus
  2. Sangat menginspirasi pak....matur suwun

    BalasHapus
  3. apa bedanya dengan form follow precedent, aesthetic, process, dan profit?

    BalasHapus
  4. wah membantu nih buat referensi penyusunan makalah saya

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima Kasih ya atas kunjungannya, jangan lupa tinggalkan komentar anda, karena komentar anda sangat berarti bagi blog Ismanadi :D

Postingan populer dari blog ini

Lagu Malang Awe Awe Ala Peni Suparto

Image Source : Inconclusion

Pertama kali tahu lagi ini gara-gara persiapan acara Penyerahan Kembali Siswa Kelas IX di salah satu SMP Swasta kota Malang. Waktu itu regu paduan suara sedang getol-getolnya berlatih dengan iringan elekton. Rasa penasaran dengan lagu ini akhirnya membawa saya untuk bersilaturrahim kepada paman Google, untuk minta tolong penerawangannya guna mencari lokasi “gratis” mendapatkan lagu itu. Dan gayungpun bersambut, tak sampai 5 menit sayapun telah berhasil menyimpan file Mp3-nya kedalam harddisk (semoga nggak dikatakan membajak, karena untuk konsumsi pribadi). Setelah beberapa kali saya putar, cukup menarik bagi saya pribadi yang seorang Jawa mendengarkan lagu tersebut karena memang liriknya berbahasa Jawa (sekalipun ada beberapa kata yang saya kurang paham maksudnya).

Mendengarkan lagu Malang Awe-Awe ini sedikit mengingatkan saya kepada dua sosok orang penting di negeri ini, yang pertama tepatnya beberapa tahun yang lalu saat bapak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono)…

Memahami Seni (Lukis) Modern

Oleh : Dr. Agus Priyanto*
Kapan permulaan senilukis modern? Banyak jawaban muncul berkaitan dengan pertanyaan ini. Sejumlah pakar seni memberi jawaban berdasarkan argumentasi mereka masing-masing. Senilukis modern adalah julukan bagi senilukis yang memuat kreativitas individu dan unsur-unsur kebaruan di dalamnya.

Berdasarkan definisi ini, senilukis modern mencakup lukisan-lukisan sejak zaman prasejarah, hingga kini yang memiliki karakteristik. Pengertian senilukis modern ini menunjukkan, modern adalah hal yang berkaitan dengan karakteristik, bukan waktu. Modern setiap zaman bisa berbeda-beda kualitasnya, sejauh lukisan memiliki karakteristik, maka dapat disebut seni lukis modern.

Definisi Para Pakar

Para ahli sejarah seni di Barat tidak bisa menyatakan batas pasti permulaan senilukis modern. Sarah Newmeyer dalam Enjoying Modern Art (1955) menyatakan, "Seni modern boleh jadi sebuah lukisan seekor bison yang digoreskan duapuluh ribu tahun lalu, pada dinding gua Lascaux di Selatan Pran…