Langsung ke konten utama

Maaf Pak, Saya Tidak Bisa Menggambar

Melihat-lihat karya gambar anak-anak waktu penilaian akhir tadi siang, ada rasa kagum, bangga dan juga beberapa ada yang membuat kecewa. Kecewa bukan berarti karena gambarnya nggak sesuai dengan harapan, akan tetapi kecewa karena nggak mengindahkan tugas yang sudah diberikan, alias nggak mengumpulkan tugas. Berbicara mengenai tugas menggambar ini menjadikan saya teringat masa-masa ketika masih bersekolah di jenjang yang sama (SMP). Kala itu banyak teman perempuan saya yang seringkali mengeluh ketika ada tugas menggambar, karena hal tersebut seringkali membuat mereka terlambat mengumpulkan tugas, dan bahkan ketika ditanya oleh guru mengapa terlambat mengumpulkannya mereka seringkali bilang, “Maaf Pak!, saya tidak bisa menggambar.”.

Masa berkesenian (menggambar) anak dalam jenajng pendidikan mengengah pertama merupakan masa yang bisa dikatakan tingkat anak dalam Tahap Naturalisme Semu (The Pseudo Naturalistic Stage) sebuah istilah untuk masa periodesasi menggambar anak-anak . Pada periode ini anak mengalami masa transisi dari masa anak-anak ke masa remaja. Usia ini sering disebut masa pubertas. Masa anak sering terombang-ambing jiwanya. Anak mulai kehilangan kemampuan spontanitas dalam membuat gambar, karena mulai menggunakan penalarannya. Perubahan dari ketidaksadaran menuju kekesadaran. Oleh sebab itu anak menjadi lebih kritis dan menyadari dirinya sendiri. Mereka mulai mampu membuat bentuk secara proposional dan detail dari benda yang digambar. Sehingga dalam masa inilah anak seringkali merasakan penurunan atas rasa spontanitasnya dalam menggambar yang mengakibatkan kepercayaan dirinya dalam hal itu juga menurun sehingga seringkali dia merasa “Tidak” dapat menggambar dengan baik.

Jika dicermati lebih dalam lagi, tujuan utama pembelajaran seni di sekolah formal bukanlah semata-mata menjadikan seorang anak atau seorang siswa mahir dalam menggambar, atau lebih-lebih nantinya mencetak dia untuk menjadi seorang seniman yang handal. Akan tetapi lebih kepada menjadikan seni sebagai media mengskplorasi dirinya sendiri, sebagai sarana untuk berapresiasi dan berkreasi yang dapat menjadikan belahan otak kanan dan otak kiri sama-sama dilatih dan digunakan secara seimbang proporsional secara ideal.

Saya sangat yakin sekali bahwasanya setiap orang, setiap anak, siapapun mereka; semuanya bisa menggambar dengan baik. Kriteria “baik” dalam hal ini memang ada tingkatannya sendiri-sendiri, tergantung dari kita menilainya dari sudut pandang yang mana. Kenapa saya sangat yakin setiap orang dapat menggambar dengan baik, hal itu semata-mata karena setiap orang dikaruniai dengan belahan otak yang sama, volume yang sama dan anggota badan yang sama yang membedakan dari kesemua itu hanyalah mengenai kemampuan. Lantas mengapa kemampuannya berbeda, ya memang dari awal telah ada perbedaan dari kebiasaan belajarnya, lingkungannya dan juga faktor eksternal yang lain.

Untuk itu tidak sepatutnya bagi seroang siswa yang mempunyai tugas menggambar dan ia tidak mengerjakannya ataupun terlambat mengumpulkan gara-gara alasan tidak bisa menggambar. Karena bagaimanapun pastinya setiap orang itu bisa menggambar, asalkan dia bisa menorehkan sebuah garis saja, berarti ia telah memiliki syarat untuk bisa menggambar. Dan yang lebih pasti lagi hasil akhir bukanlah penilaian mutlak (terutama dalam kegiatan seni), akan tetapi nilai proses dan nilai tanggung jawab dalam mengerjakan tugas juga sangat penting, dan dua hal terakhir inilah yang menjadi fokus utama, lebih-lebih untuk kegiatan pembelajaran seni di sekolah formal. (ismanadi @Blogger Malang Selatan)
Image Source : Shutterstock.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Estetika dalam Seni dan Desain

Oleh : Dr. Agus Priyatno, M.Sn*

Estetika atau nilai-nilai keindahan ada dalam seni maupun desain, yang membedakan adalah estetika dalam seni untuk diapresiasi, sedangkan estetika dalam desain adalah bagian dari sebuah fungsi suatu produk.

Dalam teori desain dikenal prinsip form follow function, yaitu bentuk desain mengikuti fungsi. Selain memenuhi fungsi, ada tiga aspek desain yang harus dipenuhi jika suatu produk desain ingin dianggap berhasil, yaitu produk desain harus memiliki aspek keamanan (safety), kenyamanan (ergonomi) dan keindahan (estetika).
Aspek keamanan berarti suatu produk desain tidak mencelakai pemakainya. Aspek ergonomi berarti suatu produk desain proporsinya pas ketika dipakai. Aspek keindahan berarti suatu produk disain harus enak dilihat.
Sebuah kursi harus kuat supaya tidak rubuh ketika diduduki, maka ini berkaitan dengan keamanan. Kursi harus proporsional dengan ukuran manusia, sehingga terasa pas dipakai. Tidak terlalu tinggi at…

Lagu Malang Awe Awe Ala Peni Suparto

Image Source : Inconclusion

Pertama kali tahu lagi ini gara-gara persiapan acara Penyerahan Kembali Siswa Kelas IX di salah satu SMP Swasta kota Malang. Waktu itu regu paduan suara sedang getol-getolnya berlatih dengan iringan elekton. Rasa penasaran dengan lagu ini akhirnya membawa saya untuk bersilaturrahim kepada paman Google, untuk minta tolong penerawangannya guna mencari lokasi “gratis” mendapatkan lagu itu. Dan gayungpun bersambut, tak sampai 5 menit sayapun telah berhasil menyimpan file Mp3-nya kedalam harddisk (semoga nggak dikatakan membajak, karena untuk konsumsi pribadi). Setelah beberapa kali saya putar, cukup menarik bagi saya pribadi yang seorang Jawa mendengarkan lagu tersebut karena memang liriknya berbahasa Jawa (sekalipun ada beberapa kata yang saya kurang paham maksudnya).

Mendengarkan lagu Malang Awe-Awe ini sedikit mengingatkan saya kepada dua sosok orang penting di negeri ini, yang pertama tepatnya beberapa tahun yang lalu saat bapak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono)…

Memahami Seni (Lukis) Modern

Oleh : Dr. Agus Priyanto*
Kapan permulaan senilukis modern? Banyak jawaban muncul berkaitan dengan pertanyaan ini. Sejumlah pakar seni memberi jawaban berdasarkan argumentasi mereka masing-masing. Senilukis modern adalah julukan bagi senilukis yang memuat kreativitas individu dan unsur-unsur kebaruan di dalamnya.

Berdasarkan definisi ini, senilukis modern mencakup lukisan-lukisan sejak zaman prasejarah, hingga kini yang memiliki karakteristik. Pengertian senilukis modern ini menunjukkan, modern adalah hal yang berkaitan dengan karakteristik, bukan waktu. Modern setiap zaman bisa berbeda-beda kualitasnya, sejauh lukisan memiliki karakteristik, maka dapat disebut seni lukis modern.

Definisi Para Pakar

Para ahli sejarah seni di Barat tidak bisa menyatakan batas pasti permulaan senilukis modern. Sarah Newmeyer dalam Enjoying Modern Art (1955) menyatakan, "Seni modern boleh jadi sebuah lukisan seekor bison yang digoreskan duapuluh ribu tahun lalu, pada dinding gua Lascaux di Selatan Pran…