Langsung ke konten utama

Estetika Islam Kaya Nuansa

Oleh : Dr. Agus Priyatno, M.Sn

Kebudayaan Islam di berbagai tempat di dunia ini sangat bervariasi dan kaya dengan nilai-nilai estetika. Sebagai contoh arsitektur masjid, setiap wilayah memiliki kekhasannya masing-masing. Arsitektur masjid di Arab, India, Cina dan Indonesia berbeda tampilannya meskipun substansinya sama sebagai tempat ibadah. Arsitektur masjid di Indonesia sendiri juga sangat bervariasi, ada masjid berasitektur modern dan tradisional.


Masjid berasitektur modern bervariasi coraknya, antara lain masjid Istiqlal Jakarta, masjid Kubah Emas di Depok, masjid MAS (Al Akbar) di Surabaya, masjid al Markaz al Islami di Makasar, dan masjid Raya di Medan. Semua bentuk arsitektur masjid tersebut berbeda-beda, tidak ada yang sama. Masjid berasitektur tradisional antara lain masjid tradisional di Demak Jawa Tengah, masjid berbentuk Joglo. Masjid Cheng Hoo di Surabaya berbentuk mirip klenteng tempat ibadah orang Cina. Kekayaan corak estetika Islam yang penuh nuansa selain tampak pada masjid juga pada berbagai elemen kebudayaan lainnya seperti busana dan seni rupa. Banyak variasi busana Muslim yang sangat indah corak dan warnanya. Pada bidang senirupa, kekayaan estetika Islam juga sangat beraneka dan penuh nuansa.


Terbentuknya Kebudayaan Islam

Ajaran Islam yang terdapat dalam Kitab Suci Quran bersifat substantif daripada teknis. Hal ini memungkinkan terbentuknya kebudayaan dengan kekayaan estetika. Ajaran tentang berbusana misalnya, menyebutkan tentang busana yang menutup aurat. Tidak ada aturan teknis tentang warna, mode dan ukuran. Hal ini memungkinkan munculnya berbagai corak busana muslim. Di Indonesia busana muslim sangat bervariasi. Ada busana dengan karakteristik lokal, luar daerah, bahkan luar negeri.


Kebudayaan lokal yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam tetap dipertahankan. Kebudayaan baru yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, juga diserap oleh komunitas Muslim meskipun berasal dari luar. Inovasi terhadap kebudayaan lama juga berlangsung, di saat yang sama muncul kreasi-kreasi baru. Semua proses, menjadikan masyarakat muslim kaya dengan nilai-nilai estetika.


Terbentuknya Kebudayaan Modern Indonesia

Indonesia, wilayah terbuka mendapatkan berbagai pengaruh dari luar dalam proses pembentukan kebudayaannya. Posisi geografisnya yang strategis dan menjadi perlintasan berbagai bangsa, menyebabkan pengaruh kebudayaan luar sangat banyak serta intensif. Bangsa Indonesia secara kreatif menyeleksi, menginovasi dan mengombinasikan kebudayaan-kebudayaan dari luar menjadi kebudayaan baru yang lebih sesuai.


Faktor penting pembentuk kebudayaan modern di Indonesia dewasa ini adalah faktor agama Islam (Islamisasi) dan faktor kebudayaan Barat (oksidentalisasi). Kedua faktor itu melahirkan tiga corak kebudayaan dominan. Kebudayaan Islam, kebudayaan Barat dan kebudayaan hybrid/eklektik yang merupakan hasil sintesis dari kedua faktor tersebut. Kebudayaan hybrid/eklektik terbentuk karena adanya aspek-aspek yang secara ideologis maupun paradigmatis tidak saling bertentangan, sehingga terbentuklah kebudayaan baru yang bersifat inovatif dan kreatif.


Estetika Islam dalam Seni Rupa Indonesia

Kekayaan estetika yang terbentuk melalui proses kreatif bangsa Indonesia juga tampak pada bidang seni rupa. Para seniman muslim berupaya membangun identitas seni rupa Islami. Munculah corak senirupa hybrid/eklektik berupa senirupa modern di Indonesia yang mengekspresikan nilai-nilai keislaman. Karya senirupa representasional, abstrak serta kaligrafi menampilkan berbagai tema keagamaan. Tema keagamaan antara lain tentang ritual keagamaan seperti salat dan haji. Tema lainnya berupa kisah para Nabi, ayat-ayat Quran, pengalaman religius, dan simbol-simbol Islam. Berbagai tema, muncul dalam senirupa Indonesia sejak tahun 1960-an.


Di Bandung para seniman seperti Ahmad Sadali, Abdul Djalil Pirous dan Abay Subarna, menciptakan lukisan kaligrafi dengan berbagai kombinasi. Di Yogyakarta seniman seperti Affandi, Widayat, Amri Yahya, Agus Kamal, dan Syaiful Adnan menciptakan berbagai corak lukisan Islami dalam corak representasional. Di Surabaya seniman Amang Rahman juga menunjukkan kreasi seni Islaminya. Di Medan ada Handono Hadi yang banyak melukis karya kaligrafi Islami.


Terbentuknya senirupa modern dengan nilai-nilai keislaman juga bekaitan dengan perkembangan bidang-bidang lainnya. Perkembangan Islam, kondisi sosial, politik, ekonomi, budaya, kebijakan pemerintah, letak geografis, hubungan antarbangsa, memberikan pengaruh terhadap kemunculan senirupa modern yang bernilai keislaman.


Di samping itu kesadaran para seniman untuk membangun identitas diri dan tidak hanya menjadi epigon kebudayaan Barat telah melahirkan corak seni yang berbeda yang memperkaya estetika senirupa dunia. Hal ini merupakan faktor internal yang mendorong munculnya seni rupa modern bernilai keislaman dalam perkembangan seni modern di Indonesia.


*Penulis; dosen seni rupa FBS Unimed
Gmbar Pinjem dari Sini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Estetika dalam Seni dan Desain

Oleh : Dr. Agus Priyatno, M.Sn*

Estetika atau nilai-nilai keindahan ada dalam seni maupun desain, yang membedakan adalah estetika dalam seni untuk diapresiasi, sedangkan estetika dalam desain adalah bagian dari sebuah fungsi suatu produk.

Dalam teori desain dikenal prinsip form follow function, yaitu bentuk desain mengikuti fungsi. Selain memenuhi fungsi, ada tiga aspek desain yang harus dipenuhi jika suatu produk desain ingin dianggap berhasil, yaitu produk desain harus memiliki aspek keamanan (safety), kenyamanan (ergonomi) dan keindahan (estetika).
Aspek keamanan berarti suatu produk desain tidak mencelakai pemakainya. Aspek ergonomi berarti suatu produk desain proporsinya pas ketika dipakai. Aspek keindahan berarti suatu produk disain harus enak dilihat.
Sebuah kursi harus kuat supaya tidak rubuh ketika diduduki, maka ini berkaitan dengan keamanan. Kursi harus proporsional dengan ukuran manusia, sehingga terasa pas dipakai. Tidak terlalu tinggi at…

Lagu Malang Awe Awe Ala Peni Suparto

Image Source : Inconclusion

Pertama kali tahu lagi ini gara-gara persiapan acara Penyerahan Kembali Siswa Kelas IX di salah satu SMP Swasta kota Malang. Waktu itu regu paduan suara sedang getol-getolnya berlatih dengan iringan elekton. Rasa penasaran dengan lagu ini akhirnya membawa saya untuk bersilaturrahim kepada paman Google, untuk minta tolong penerawangannya guna mencari lokasi “gratis” mendapatkan lagu itu. Dan gayungpun bersambut, tak sampai 5 menit sayapun telah berhasil menyimpan file Mp3-nya kedalam harddisk (semoga nggak dikatakan membajak, karena untuk konsumsi pribadi). Setelah beberapa kali saya putar, cukup menarik bagi saya pribadi yang seorang Jawa mendengarkan lagu tersebut karena memang liriknya berbahasa Jawa (sekalipun ada beberapa kata yang saya kurang paham maksudnya).

Mendengarkan lagu Malang Awe-Awe ini sedikit mengingatkan saya kepada dua sosok orang penting di negeri ini, yang pertama tepatnya beberapa tahun yang lalu saat bapak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono)…

Memahami Seni (Lukis) Modern

Oleh : Dr. Agus Priyanto*
Kapan permulaan senilukis modern? Banyak jawaban muncul berkaitan dengan pertanyaan ini. Sejumlah pakar seni memberi jawaban berdasarkan argumentasi mereka masing-masing. Senilukis modern adalah julukan bagi senilukis yang memuat kreativitas individu dan unsur-unsur kebaruan di dalamnya.

Berdasarkan definisi ini, senilukis modern mencakup lukisan-lukisan sejak zaman prasejarah, hingga kini yang memiliki karakteristik. Pengertian senilukis modern ini menunjukkan, modern adalah hal yang berkaitan dengan karakteristik, bukan waktu. Modern setiap zaman bisa berbeda-beda kualitasnya, sejauh lukisan memiliki karakteristik, maka dapat disebut seni lukis modern.

Definisi Para Pakar

Para ahli sejarah seni di Barat tidak bisa menyatakan batas pasti permulaan senilukis modern. Sarah Newmeyer dalam Enjoying Modern Art (1955) menyatakan, "Seni modern boleh jadi sebuah lukisan seekor bison yang digoreskan duapuluh ribu tahun lalu, pada dinding gua Lascaux di Selatan Pran…