Langsung ke konten utama

CERPEN : AGENG PRANGBATIN (Sang Srigala Terakhir)

“Prang, bangun! Sudah siang nak buruan bangun, 2 jam lagi kamu harus temui Dokter Tian untuk kontrol nak, ayo cepat!”. Begitulah teriak ibuku tiap hari, lebih-lebih di hari senin untuk membangunkanku dari dunia yang kusenangi.  Aku merasa sangat baik dan merasa lebih baik ketika berada di dunia mimpi-mipmi indahku. Karena di dunia nyataku, aku hanya berurusan dengan dokter Tian, teriakan ibu, suntikan dan beberapa kantung pil yang harus aku habiskan tiap minggunya. Sungguh duniaku kini sangat membosankan dan membebani pikranku, tapi apa boleh buat. Mungkin inilah jalan hidupku yang kurasa semakin jauh dari titik terang. Jauh dari haluan masa depan yang begitu banyak harapan dan keindahan. Yang aku rasa itu semua hanya berpihak pada orang-orang lain, bukan berpihak padaku.
***
Namaku adalah Ageng Prangbatin, seroang pemuda yang hampir berumur 3 dekade yang kini memutuskan diri dari absurdnya dunia.  Aku men-drop-outkan diri dari surau estetika yang dulu aku anggap tempat yang paling menyenangkan. Teman-teman mengenalku sebagai pribadi yang sangat pendiam. Mulutku sejak dulu memang tak pernah baikan dengan kata-kata, aku terbiasa terdiam dan hanya sesekali tersenyum. Senyumkupun seingatku sudah mati seiring dengan kepergian satu per satu teman-temanku yang aku rasa dulu sebagai dunia luar rumah yang nyaman. Penuh dengan canda tawa, kehangatan dan keceriaan walaupun aku hanya mampu melihat dan merasakannya dari jauh meski saat itu secara fisik kami sangat dekat.  Saat ini yang mampu memahamiku hanyalah dinding kamarku dan gitar bututku. Dan teman setiaku adalah setumpuk pil yang harus ku habiskan tiap hari. Aku semakin merasa hanya berjuang seorang diri di dunia ini. Lebih-lebih setelah beberapa kali keluar masuk opname di rumah sakit.

***

“Bu, kondisi Prang saat ini agak lebih baik dari minggu lalu”. Ucap Dokter Tian”
“Terima kasih Dok, saya mohon dokter, tolonglah anak saya agar segera pulih kembali.” Sahut Ibu
“Baik Ibu, kami akan usahakan yang terbaik. Ibu yang sabar ya dan tetap kita mohon Pada-Nya, dan jangan terlambat untuk selalu memberikan obat antipsikotik seperti biasa tiga kali sehari ya”. Seru Dokter Tian menenangkan.

***

Aku berjalan di belakang ibu, kami berjalan menyusuri teras-teras kamar rumah sakit setelah keluar dari ruangan Dokter Tian. Di kejauhan ku lihat beberapa orang yang sedang sakit. Tapi menurutku mereka masih beruntung , karena disekitarannya masih banyak teman-teman yang peduli dan membawakan keceriaan hingga sakit yang ia terima mungkin tak terasa begitu membebani. Berbeda dengan aku,  secara fisik orang melihatku tidak akan menemukan tanda-tanda bahwa aku sedang sakit, namun bisa kupastikan sakitnya melebihi orang-orang sakit yang kulihat itu.

***

“Assalamu’alaikum Bu Mida!” Celetuk bu Heni
“Wa’alaikum salam , eh bu Heni”. Sambut bu Mida terbata-bata
“Mau kemana? Kok sepertinya terburu-buru.”  Sambung bu Heni
“ Iya bu, ini saya mau kerumahnya ustad Rofiq.” Jawab bu Mida
“Loh, ada perlu apa bu, kalau boleh tahu,tentang Prang ya!” Tegas bu Heni
“Iya bu, saya mau berkonsultasi tentang kondisinya Prang sekarang, siapa tahu ada jalan keluar yang baik di sana, “ jawab bu Mida.
‘”Oh ya, ya sudah hati-hati bu ya dijalan”  ucap bu Heni
“Terima Kasih Bu Heni, Assalamu’alaikum” jawa bu Mida
“wa’alaikum salam”. Tutup bu Heni.

***

Sore ini aku baru terbangun,  seingatku siang tadi ibu datang bersama ustad Rofiq dan 2 orang muridnya. Aku tak mengerti apa yang mereka kerjakan disini, seingatku setelah kedatangan mereka kerumahku dan bercakap-cakap sebentar dengan ibu. Mereka mendatangi kamarku. Ibu menyuruhku berbaring begitu saja. Akupun pasrah, sepertinya mereka memegang keningku sambil membaca bacaan-bacaan seperti yang kudengar tiap hari di masjid timur dekat rumahku sesaat sebelum adzan dikumandangkan.
“Prang, kamu baik-baik saja nak?” tanya Ibu sambil mengusap peluh yang besimbah di sekitaran mukaku
“Makan dulu ya Prang?, Ibu khawatir, hampir dua jam lebih kamu pingsan.”. Ucap ibu pelan.
“Ibu suapin ya?” Pinta ibu lagi
Sesaat kemudian suasana terasa hening, ibu terduduk diam disebelahku sambil menatap erat di wajahku.
“Bu….aku sudah tak punya harapan lagi. Aku tak punya masa depan yang jelas. Maafkan aku bu. Hingga sebesar ini aku hanya mampu menjadi beban pikiran dan tanggunganmu.” Ucapku pasrah.
“Tidak Prang, kamu masih punya harapan nak.” Jawab ibu menghibur
“Tidak bu, masa depanku sudah hilang, lilahtlah bu, Kuliahku berantakan, bahkan temanpun aku sudah tak punya bu, merka tak ada yang peduli, mereka tak ada lagi yang mengingatku. apa yang bisa aku harapkan, apa yang bisa aku andalkan bu.” bentakku dengan keras
“lihatlah bu, apa yang bisa kulakukan sekarang. Tanpamu aku hanya seonggok tubuh pengisi kamar, aku hanya bisa mengisi hari-hari tuamu dengan beban yang semakin bertumpuk seriring dengan memutihnya rambutmu bu. Apa coba yang bisa ku berikan padamu selain air mata. Apa bu!. “

Ibuku menjawab semua perkataanku hanya dengan tetasan bening air yang jatuh dari matanya. Ia tetap terdiam dipinggir tempat tidurku. Aku hanya bisa melihat langit-langit kamarku yang mulai terisi oleh arsiran rumah laba-laba kecil. Aku merasa hidup ini sudah tak ada tujuan lagi, tak ada harapan yang ingin kucapai, jangankan mencapainya berharap-pun rasanya aku sudah tak ingin dan mampu lagi. Aku sudah terlalu lama nyaman dalam kondisi seperti ini.  Aku selalu ingat, mereka yang bisa memahami dan memberikan ketenangan yang kubutuhkan sudah pergi menjauh. Tak ada lagi teman, tak satupun lagi kawan yang biasa mengisi hari-hari dengan tawa, kekompakan, kebersamaan dan kehangatan cengkrama yang membuat dunia kecilku menjadi tak terbatas, menghilangkan sekat-sekat ketidak pastian, membinasakan sendi-sendi perbedaan. Disana saat itu semua tumpah ruah dalam gemulai estetika, yang walaupun satu dua hal kami sulit untuk memahami akan tetapi kasatnya visual yang kami tampakkan seakan sudah mampu mengganti seluruh kata-kata dan istilah yang tak kami pahami dan lebih-lebih tak kami butuhkan. Saat ini aku hanya ingat satu dunia di dalam galaksi ini, dunia yang penuh warna, dunia yang penuh hangatnya mentari persaudaraan, dunia yang penuh dengan awan ocehan dan celotehan yang saling menguatkan semangat tuk terus menghasilkan, berkarya dan mengupas alam imajinasi dan khayalan. Dan seingtku dunia itu bernama Gomball, dimanakah mereka?

CEKIDOT:
Kisah dalam cerpen ini adalah true story yang saya tulis untuk menggambarkan kondisi salah satu rekan kita saat ini. Sumber tulisan yang saya adaptasi dari perbincangan ringan namun serius disaat membahas hasil home visit bapak Taufik, Bapak Yuga dan Bapak Amon kerumah  rekan kita yang kita kenal sebagai “The Most Silent Man”. Mohon maaf apabila tulisannya kurang mampu menyentuh para pembaca, yang jelas dalam hal ini kita( pak Taufik, Pak Yuga, Pak Amon dan Pak Roni juga) sepakat untuk memberikan semangat baru dan dorongan moril untuknya dengan menyelenggarakan semacam pameran tribute yang Insya Alloh pesertanya adalah intern Gomball. Gimana dengan yang lain sepakat ya?. Mohon tulisan cerpen ini tidak diberitahukan pada rekan kita yang saya gambarkan diatas dan juga kepada khalayak umum selain Gomball. Adapun keterangan lebih lanjut tentang pameran dan segala ubo rampenya akan segara saya siapkan dan saya launching di official website komunitas gomball yang Insya Alloh coming soon. Di tunggu ya, adios amigos!!! Ismanadi

source image ; Disini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Estetika dalam Seni dan Desain

Oleh : Dr. Agus Priyatno, M.Sn*

Estetika atau nilai-nilai keindahan ada dalam seni maupun desain, yang membedakan adalah estetika dalam seni untuk diapresiasi, sedangkan estetika dalam desain adalah bagian dari sebuah fungsi suatu produk.

Dalam teori desain dikenal prinsip form follow function, yaitu bentuk desain mengikuti fungsi. Selain memenuhi fungsi, ada tiga aspek desain yang harus dipenuhi jika suatu produk desain ingin dianggap berhasil, yaitu produk desain harus memiliki aspek keamanan (safety), kenyamanan (ergonomi) dan keindahan (estetika).
Aspek keamanan berarti suatu produk desain tidak mencelakai pemakainya. Aspek ergonomi berarti suatu produk desain proporsinya pas ketika dipakai. Aspek keindahan berarti suatu produk disain harus enak dilihat.
Sebuah kursi harus kuat supaya tidak rubuh ketika diduduki, maka ini berkaitan dengan keamanan. Kursi harus proporsional dengan ukuran manusia, sehingga terasa pas dipakai. Tidak terlalu tinggi at…

Lagu Malang Awe Awe Ala Peni Suparto

Image Source : Inconclusion

Pertama kali tahu lagi ini gara-gara persiapan acara Penyerahan Kembali Siswa Kelas IX di salah satu SMP Swasta kota Malang. Waktu itu regu paduan suara sedang getol-getolnya berlatih dengan iringan elekton. Rasa penasaran dengan lagu ini akhirnya membawa saya untuk bersilaturrahim kepada paman Google, untuk minta tolong penerawangannya guna mencari lokasi “gratis” mendapatkan lagu itu. Dan gayungpun bersambut, tak sampai 5 menit sayapun telah berhasil menyimpan file Mp3-nya kedalam harddisk (semoga nggak dikatakan membajak, karena untuk konsumsi pribadi). Setelah beberapa kali saya putar, cukup menarik bagi saya pribadi yang seorang Jawa mendengarkan lagu tersebut karena memang liriknya berbahasa Jawa (sekalipun ada beberapa kata yang saya kurang paham maksudnya).

Mendengarkan lagu Malang Awe-Awe ini sedikit mengingatkan saya kepada dua sosok orang penting di negeri ini, yang pertama tepatnya beberapa tahun yang lalu saat bapak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono)…

Memahami Seni (Lukis) Modern

Oleh : Dr. Agus Priyanto*
Kapan permulaan senilukis modern? Banyak jawaban muncul berkaitan dengan pertanyaan ini. Sejumlah pakar seni memberi jawaban berdasarkan argumentasi mereka masing-masing. Senilukis modern adalah julukan bagi senilukis yang memuat kreativitas individu dan unsur-unsur kebaruan di dalamnya.

Berdasarkan definisi ini, senilukis modern mencakup lukisan-lukisan sejak zaman prasejarah, hingga kini yang memiliki karakteristik. Pengertian senilukis modern ini menunjukkan, modern adalah hal yang berkaitan dengan karakteristik, bukan waktu. Modern setiap zaman bisa berbeda-beda kualitasnya, sejauh lukisan memiliki karakteristik, maka dapat disebut seni lukis modern.

Definisi Para Pakar

Para ahli sejarah seni di Barat tidak bisa menyatakan batas pasti permulaan senilukis modern. Sarah Newmeyer dalam Enjoying Modern Art (1955) menyatakan, "Seni modern boleh jadi sebuah lukisan seekor bison yang digoreskan duapuluh ribu tahun lalu, pada dinding gua Lascaux di Selatan Pran…